KONSERVASI
KUSKUS BERUANG (Ailurops ursinus)
Kuskus
beruang sulawesi ( Ailurops ursinus ) merupakan salah satu jenis hewan endemik
pulau sulawesi yang dilindungi oleh peraturan pemerintah no 7 tahun 1999. Hewan
yang masuk dalam daftar merah spesies terancam IUCN 2008 ini adalah anggota
dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupial dan dari keluarga
Phalangeridae. Bentuk tubuhnya yang besar seperti kucing bahkan bisa lebih
ukurannya. Kuskus beruang ini ukurannya sangat besar dibandingkan dengan para
kerabatnya di keluarga phalangeridae, oleh sebab itu mamalia ini di sebut
dengan kuskus beruang karena bentuk tubuhnya seperti beruang.
Klasifikasi
kuskus beruang menurut Temminck (1824) dalam Flannery et al. (1987) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub Phylum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Marsupialia
Famili : Phalangeridae
Sub Famili : Ailuropinae
Genus : Ailurops
Spesies : Ailurops ursinus (Temminck, 1824).
Morfologi Kuskus
Beruang

Daun
telinga pendek, hampir tidak terlihat karena tersembunyi dibawah rambut-rambut
kepala, bagian luar dan dalam telinga berambut. Warna dasar tubuh bagian atas
adalah hitam pucat dengan rambut bagian punggung berwarna coklat kehitaman,
beberapa rambut bagian tubuh lain berwarna kuning kecoklatan atau lebih pucat.
Kuskus
betina memiliki kantung yang terletak pada kulit perutnya, berkembang dengan
baik, membuka ke arah depan , dan mempunyai empat puting susu. Kuskus beruang
betina dewasa dapat melahirkan satu-sampai dua kali dalam setahun. Lama masa
kebuntingan pada satwa ini sangat singkat yaitu kira-kira satu bulan. Saat
dilahirkan bayi kuskus masih berbentuk mudigah (embrio) yang secara alami akan
merayap menuju kantung induknya, berdiam dalam kantung dan akan mengisap puting
susu induknya untuk selama 6-7 bulan. Setelah masa itu anak kuskus akan mulai
belajar memakan pakan seperti yang dimakan oleh induknya
Pergerakan dan Pakan
Kusksus Beruang

Kuskus
beruang aktif pada siang hari (diurnal). Sebagian besar aktivitas hariannya
banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk
makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit,
kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang
banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber
makanannya yang mengandung sedikit nutrisi.
.
Makanan kuskus Beruang adalah daun-daun muda. Bunga-bungaan dan buah masih
mentah. Kuskus beruang suka daun muda karena lebih mudah dicerna dan lebih
sedikit racunnya, tetapi sesekali daun yang lebih tua juga dimakan untuk
memenuhi kebutuhan protein. (Yefbenedicpanjaitan, 2011).
Kadang-kadang
kuskus memakan buah-buahan serta dalam jumlah sedikit berupa bunga dan kulit
batang untuk memenuhi kebutuhan protein (Farida et al.,1999), sedangkan kuskus
beruang di habitat aslinya paling banyak mengkonsumsi pucuk daun muda dan
batang muda (Nurjaeni, 2001). Pengamat bisa melakukan pengamatan ditempat
sumber pakan kuskus beruang. Untuk memperbesar peluang pertemuan dengan kuskus
beruang sediakan makanan favorit mereka. Makanananya terdiri dari daun dan
buah, misalnya daun kayu kambing ( Garuga floribunda ), Pohon mindi ( Melia
azedarach ), kenanga ( Cananga ordorata ) dan buah rao (Drancotomelon dao dan
D. Mangiferum).
Habitat
Kuskus Beruang
Kuskus
beruang merupakan spesies yang paling besar dan paling primitif diantara famili
phalangeridae lainnya yang sangat berbeda dengan kuskus kerdil yang ukuran
tubuhnya relatif kecil tapi pintar dan kuskus beruang hanya ditemukan di
Kepulauan Sulawesi dan sekitarnya. Hewan yang juga disebut Kuse ini tinggal di
atas-atas pohon di hutan Sulawesi dan memakan dedaunan serta buah-buahan.
Kuskus
beruang merupakan satwa yang menghabiskan banyak waktunya dikanopi pohon
(arboreal) sehingga pengamat berpeluang dapat bertemu dengan kuskus beruang
dihabitat utama dari satwa ini dikanopi bagian atas hutan hujan tropis Sulawesi.
Kuskus beruang hidup sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Mereka mendiami bagian
atas pohon-pohon tinggi.. Habitat kuskus beruang adalah hutan-hutan di
Sulawesi, Kepulauan Togian, Pulau Peleng dan Kepulauan Talaud. Sayangnya,
binatang unik ini terancam punah. Penyebabnya adalah perburuan dan rusaknya
habitat (Dini Lestari, 2012).
Saat
ini populasi kuskus beruang terus menurun dan terancam punah, karena terjadinya
perburuan dan perdagangan liar. Di samping itu sebagian hutan yang merupakan
habitat aslinya telah mengalami kerusakan akibat pembukaan hutan untuk areal
pertanian dan pemukiman penduduk. Di asalnya sendiri kuskus beruang sering
menjadi hewan buruan petani dikarenakan hewan yang sering dipanggil “Kuse” ini
sering memakan daun-daun muda yang ditanami oleh petani. Hewan yang hobinya
tidur ini oleh pemerintah sudah dimasukan dalam daftar hewan dilindungi dalam
peraturan pemerintah no.7 tahun 1999 dan masuk dalam kategori IUCN: rentan /
vulnerable CITES, tetapi sampai saat ini pun pemerintah belum mampu
menghentikan perdagangan satwa liar ilegal.
Meskipun
masih bisa ditemui di beberapa tempat, seperti beberapa kuskus yang berkeliaran
pada perkebunan coklat dengan pola agroforestry masyarakat Desa Campaga,
Bantaeng. Kuksus ini bahkan menjadi hewan peliharan beberapa warga di sana yang
menangkapnya ketika kuskus ini berkeliaran memakan buahan-buahan di kebun
mereka. Pada siang hari ini kuskus ini berkeliaran di sekitar kebun coklat
masyarakat campaga yang tengah mencari makan. Kuskus yang berkeliaran di kebun
rakyat ini diduga berasal dari kawasan lindung hutan Desa Campaga.


Upaya
Konservasi
Upaya konservasi yang dapat dilakukan yaitu dengan Konservasi
di dalam kawasan (konservasi in-situ) dengan penekanan konservasi “ekosistem”
atau habitat yang kaya dengan pakan. Berdasarkan kasus seperti di desa campga
yang banyak dijumpai di kebun masyarakat, banyak kuskus beruang yang keluar
dari kawasan hutan lindung untuk mencari pakan khususnya buah-buahan guna
menambah kebutuhan proteinnya. Karena terdapat beberapa kuskus yang berkeliaran
di kebun masyarakat mencari buah-buahan, hal tersebut menandakan berkurangnya
pakan buah-buahan dalam habitatnya yaitu dalam kawasan hutan lindung desa
campaga, Bantaeng.
Untuk mengatasi hal tersebut agar kuskus beruang ini
tidak berkeliaran di kebun-kebun warga daerah sekitar kawasan hutan lindung, maka
perlu adanya upaya konservasi dalam kawasan atau habitatnya dengan
memperhatikan pakannya khususnya jenis tanaman buah-buahan.
Pakan kuskus beruang pada habitatnya yang berupa jenis daun-daun muda yang merupakan pakan
utama kuskus sudah cukup terpenuhi, akan tetapi kuskus juga membutuhkan tambahn
protein seperti buah-buahan yang sering mereka peroleh di kebun-kebun warga.
Oleh karena itu perlu adanya penanaman tanaman buah-buahan (Pomologi /
Frutikultur) dalam kawasan hutan lindung desa campaga-bantaeng agar tidak
adanya lagi kuskus yang berkeliaran di
kebun-kebun warga yang pada akhirnya akan menjadi hewan tangkapan dan
peliharaan warga.
Pemenuhan kebutuhan pakan pada habitat asli kuskus
beruang ini perlu diperhatikan agar daerah pergerakan kuskus dalam mencari
pakan masih dalam wilayah habitatnya sehingga populasi kuskus ini tidak akan
berkurang karena banyaknya warga yang menangkapnya yang hanya dijadikan hewan
peliharaan yang pada akhirnya akan mati.
Dengan melihat jenis pakan buahan-buahan yang sering
dimakan oleh kuskus ini pada kebun-kebun warga, maka tanaman buahan-buahan yang
harus ditanam dalam kawasan hutan lindung desa campaga-bantaeng yaitu coklat (Theobroma cacao), rambutan (Nephelium lappaceum), langsat (Lansium domesticum), pisang (Musa sp.).
Pola penanaman yg sebaiknya dilakukan yaitu dengan
menanam tanaman buah-buahan tersebut secara menyebar pada habitatnya atau
kawasan hutan lindung campaga. Selain itu penanaman dilakukan terkhusus pada
area-area perbatasan kawasan hutan dengan areal pemukiman atau kebun milik
warga sehingga daerah pergerakan kuskus dalam mencari pakan buah masih dalam
kawasan hutan.
Upaya penanaman tanaman buah-buahan dilakukan agar
kebutuhan pakan kuskus di habitat aslinya yaitu di kawasan hutan lindung desa
campaga-bantaeng cukup terpenuhi sehingga populasi kuskus beruang ini tetap
stabil ataupun meningkat tanpa adanya pengurangan populasi yang disebabkan oleh
penangkapan illegal warga yang mengganggap kuskus adalah hama bagi kebun-kebun
mereka.
Boleh tau daftar pustakanya dari mana saja? Terimakasih :)
BalasHapus