A.
Penanganan
Sampah Rumah Tangga
Organisasi dan managemen pengelolaan sampah
merupakan faktor untuk , daya guna dan hasil guna dari pengelolaan sampah.
Organisasi dan managemen juga mempunyai peranan pokok dalam menggerakkan, mengaktifkan
dan mengarahkan sistem pengelolaan sampah dengan ruang lingkup bentuk institusi
pola organisasi, personalia serta managemen ( perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
) untuk jenjang strategis, taktis maupun operasional. Hubungan kerja antara
instansi yag berhubungan dengan pengelolaan sampah lebih bersifat koordinatif
dimana masing-masing instansi mempunyai tanggung jawab masalah pengelolaan
sampah di wilayah masing-masing.
Sistem tehnis operasional dalam sistem pengelolaan
persampahan sangat ditentukan volume sampah yang diangkut / di buang ke tempat
pembuangan akhir. kegiatan operasional persampahan tergantung pada pola-pola
operasional yang digunakan , cara penyapuan, pengumpulan, pangangkutan dan
pembuangan akhir.
Pada lingkungan perumahan BTN Pondok Asri I Sudiang,
ibu-ibu rumah tangga yang paling dominan dan memiliki perananan utama dalam
menangani masalah sampah. Persepsi tentang masalah dan pengelolaan sampah pada
ibu rumah tangga hampir sama yaitu mengganggap bahwa sampah merupakan sesuatu
buangan yang tidak terpakai lagi walaupun dengan latar belakang pendidikan yang
berbeda-beda yang hampir didominasi oleh tamatan SMA (pekerjaannya hanya
sebagai ibu rumah tangga) dan terdapat beberapa pula ibu rumah tangga yang
memiliki pekerjaan sebagai tenaga pekerja dengan pendidikan terakhir S1.
Teknis operasional penanganan
sampah di perumahan Pondok Asri I Sudiang adalah pembuangan langsung ke tempat
terbuka. Masyarakat pada setiap rumah tangga membuang sampah ke pekarangan
serta tempat terbuka di depan rumah atau lorong perumahan.
Yang merupakan sampah rumah tangga di perumahan
Pondok Asri I Sudiang adalah semua jenis jenis kotoran/sampah serta barang-barang
yang tidak terpakai baik itu berupa sampah plastik ataupun sampah hasil
sisa-sisa makanan. Setiap rumah tangga menghasilkan rata-rata sebanyak 2 wadah
sampah (kantongan atau keranjang sampah) yang kemudian di buang ke pekarangan
atau tempat terbuka di depan rumah dan lorong perumahan. Hal tersebut telah
terus menerus dilakukan karena tidak adanya sistem pelayanan sampah
konvensional seperti yang diterapkan di banyak perumahan-perumahan lainnya yang
mengeluarkan retribusi setiap bulannya untuk jasa pengangkutan sampah rumah
tangga.
Sampah yang dihasilkan setiap
rumah tangga sangatlah banyak, maka masing-masing rumah tangga bertanggung
jawab sendiri terhadap sampahnya. Sampah-sampah yang dibuang ke tempat terbuka
tersebut umumnya langsung dibakar setiap 2 kali seminggu untuk mengurangi
volumenya yang bertumpuk dan mengganggu estetika di pekarangan rumah atau
lorong perumahan.
Sebelum model teknis pengolahan sampah dengan
pembuangan ke tempat terbuka di perumahan Pondok Asri I Sudiang dilakukan,
sampah rumah tangga dibuang terpusat pada satu tempat yang modelnya menyerupai
bak penampungan sampah perumahan yang merupakan lahan kapling kosong milik
pribadi warga. Akan tetapi pembuangan sampah dengan teknis seperti itu justru
menimbulkan dampak negatif yaitu sering menyebabkan terjadinya banjir, bau
menyebar kemana-mana serta mengurangi estetika. Hal tersebut terjadi karena
volume sampah yang dibuang oleh masyarakat terus bertambah tanpa adanya upaya
pengelolaan.
Karena
hal tersebut menimbulkan banyak kerugian maka sistem teknis pembuangan sampah
mulai berubah seperti yang sekarang diterapkan oleh masyarakat di sana. Untuk
mencegah masyarakat membuang kembali sampah di sekitaran tanah kapling kosong
tersebut maka dibuatlah sebuah taman-taman bunga sederhana sebagai penambah
estetika perumahan.
Ga
Walaupun telah terjadi
perubahan upaya pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di perumahan
perumahan Pondok Asri I yaitu dari membuang sampah terpusat ke satu bak
penampungan sampah menjadi pembuangan ke tempat terbuka, akan tetapi upaya
pengelolaan sampah tersebut masih perlu diperbaiki. Dampak negatif sampah
terhadap lingkungan secara nyata berkurang, akan tetapi upaya pembakaran untuk
mengurangi volume sampah bukan merupakan cara yang efektif. Oleh karena itu
diharapakan suatu upaya pengelolaan sampah yang baik dan efektif agar sampah
yang ada dimasyarakat bukan dianggap sebagai kotoran yang harus dimusnakan,
tetapi sebagai sumber daya yang harus dikelola yang bisa memberikan manfaat
lebih kepada masyarakat.
B.
Persepsi
dan Pengetahuan Mengenai Masalah Sampah
Untuk persepsi masyarakat
atas sampah terbagi menjadi beberapa variabel yaitu pada Gambar 1 menunjukkan
bahwa sampah merupakan hal yang menjijikkan oleh karena itu banyak (sekitar
53.33 %) masyarakat di BTN Pondok Asri I Sudiang memusnakan sampah dengan cara
langsung membakarnya.
Gambar 1. Persepsi tentang
sampah itu menjijikan
Pada dasarnya banyak ibu rumah
tangga atau warga tidak setuju terhadap pembakaran sampah yang telah sering
dilakukan di BTN Pondok Asri I Sudiang (Gambar 2). Walaupun banyak yang
beranggapan membakar sampah itu tidak baik, akan tetapi mereka tetap
melakukannya karena tidak adanya upaya secara terpadu seluruh warga Pondok Asri
I untuk menangani masalah sampah sehingga cara yang paling sering dilakukan
untuk menangani sampah sekaligus mengurangi volume sampah dengan cara yang
cepat yaitu dengan membakar.
Gambar
2. Persepsi tentang pembakaran sampah
Sekitar
43.33 % masyarakat beranggapan perlu adanya pengadaan tempat-tempat pembuangan
sampah di setiap rumah agar mereka tidak membuang sampah di pekarangan rumah
atau tempat terbuka depan rumah atau lorong perumahan (Gambar 3). Akan tetapi
tidak sedikit juga yang tidak setuju yaitu sekitar 53.33 % terhadap pengadaan
tempat atau bak sampah di setiap rumah karena tidak efisien dalam pembuataanya
yang terlalu banyak. Banyak ibu rumah tangga beranggapan minimal ada bak sampah
terpusat untuk setiap lorong sehingga sampah yang dibuang tidak di sembarang
tempat.
Gambar 3. Persepsi tentang
pengadaan tempat pembuangan sampah
Untuk pemisahan sampah pada saat
pembuangannya sebagian besar warga tidak setuju untuk melakukannya karena
mereka menganggap hal tersebut justru membuat mereka repot, apalagi ketika
mereka terburu-buru dalam membuang sampah. Kurangnya kesadaran dan pemahaman
warga akan jenis-jenis sampah inilah yang membuat mereka untuk malas melakukan
pemisahan jenis sampah. Untuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemisahan
perlu dilakukan agar memudahkan dalam pemanfaataanya. Oleh karena tidak adanya
pemanfaatan sampah di Pondok Asri I Sudiang, maka pemisahan sampah mereka
anggap tidak perlu dilakukan.
Gambar
4. Persepsi tentang pemisahan sampah
Walaupun pengelolaan dan pemanfaatan
sampah tidak dilakukan dengan baik di BTN Pondok Asri I Sudiang, banyak warga
terutama ibu rumah tangga setuju (Gambar 5) dilaksanakannya pemanfaatan kembali
sampah rumah tangga. Hal tersebut mereka maksud untuk menjaga kebersihan
lingkungan dan estetika perumahan khususnya pada pekarangan rumah-rumah ataupun
lorong-lorong yang dominan ditanami tanaman yang kini rusak akibat tumpukan
sampah. Selain dapat mengurangi pembuangan sampah di sembarang tempat, juga
dapat mengurangi kegiatan pembakaran yang merupakan upaya secara cepat dalam
mengurangi volume sampah yang bertumpuk di pekarangan rumah.
Pemanfaatan kembali sampah rumah
tangga tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan perumahan, tetapi dapat
memberikan manfaat bagi masyarakat hingga memberikan nilai ekonomi. Sampah
bukanlah sesuatu yang menjijikkan, akan tetapi sampah sumber daya yang bernilai
emas bagi masyarakat jika mereka dapat mengelolaanya dengan baik.
Gambar
5. Persepsi tentang pemanfaatan kembali sampah rumah tangga
C.
Rekomendasi
Upaya Pengelolaan Sampah
Upaya pengelolaan sampah yang dapat diterapkan oleh
masyarakat di perumahan Pondok Asri I Sudiang yaitu pengolahan sampah secara
terpadu berbasis masyarakat yang dilaksanakan dengan melakukan reduksi sampah semaksimal
mungkin. Upaya tersebut dilakukan dengan cara pengolahan sampah di lokasi
sedekat mungkin dengan sumber sampah. Reduksi volume sampah yang efektif bukan
dilakukan dengan cara instan yaitu dengan membakar seperti yang telah dilakukan
oleh hampir seluruh warga, akan tetapi salah satu alternatif yang bisa
dilakukan adalah melaksanakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat,
seperti melaksanakan pengelolaan sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Mengubah pola pikir masyarakat tentang “sampah merupakan
hal yang menjijikka” menjadi “sumber daya yang bernilai ekonomi” tidaklah
mudah. Perlu adanya terlebih dahulu suatu kesadaran terhadap pentingnya
pengelolaan sampah sebelum diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang sampah, maka dapat
dirancang suatu model pengelolaan sampah dalam kaitannya mengurangi sampah
rumah tangga.
Untuk mengelola sampah di BTN Pondok Asri I Sudiang,
terlebih daluhu melakukan pengadaan bak sampah untuk setiap lorong perumahan.
Sedangkan untuk pengolahan sampah diupayakan memanfaatkan sampah-sampah yang masih
bisa dipakai atau dimanfaatkan kembali untuk mengurangi volume sampah yang
ditampung di bak sampah nantinya.
Mengurangi sampah rumah tangga diupayakan dilakukan
secara efektif yaitu dilakukan pemisahan yang benar-benar merupakan sampah yang
tidak bisa dimanfaatkan dan yang harus dibuang. Pemisahan sampah dapat
dilakukan oleh masing-masing rumah tangga yaitu sampah dalam kategori sisa
bahan makanan (organik), plastik/bungkus kemasan, kertas, ataupun logam kaca.

Sampah organik dapat diolah menjadi
pupuk kompos. Hal ini berpotensi bermanfaat di lingkungan perumahan Pondok Asri
I Sudiang karena banyaknya ibu-ibu rumah tangga di sana yang suka menanam
bunga-bunga serta tanaman sayur-sayuran di pekarangan dan lahan terbuka yang
semakin berkurang karena telah beralih fungsi dijadikan sebagai tempat
pembuangan sampah, sehingga banyak tanaman-tanaman yang pertumbuhannya terganggu.
Ibu rumah tangga dapat melakukan pembuatan kompos karena sederhana dalam
pembuatannya. Pembuatan kompos ini dapat dilakukan bersama-sama misalnya dalam
suatu kelompok pengajian ibu-ibu secara rutin mengadakan kegiatan pemanfaatan
sampah organik untuk dibuat kompos yang pada akhirnya juga dapat dimanfaatkan
oleh mereka sendiri. Suatu organisasi juga merupakan suatu wadah yang dapat
dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan sampah khususnya sampah organik
tersebut.
Selain
sampah organik, jenis sampah berupa bungkus kemasan juga berpotensi untuk
dimanfaatkan. Kelompok pengajian ibu-ibu juga tadi selain dapat menikmati
kompos, mereka juga dapat membentuk kelompok-kelompok yang memiliki
ketertarikan dalam bidang kerajinan. Semua jenis bungkus kemasan yang merupakan
sampah dikumpulkan, kemudian kelompok tersebut dapat membuat suatu kerajinan,
contohnya kreasi pembuatan tas-tas kemasan yang pembuatannya juga mudah
dilakukan.
Tas-tas kreasi tersebut dapat
secara langsung dimanfaatkan oleh warga atau ibu-ibu, misalnya untuk
penyimpanan mukenah ataupun al-quran saat ada acara pengajian serta dapat
digunakan untuk hal lainnya. Bungkus kemasan yang tadinya sampah dapat berubah
menjadi sebuah barang atau produk yang bernilai ekonomi selain tidak untuk
dipakai sendiri.
Sampah
dapat dipandang sebagai suatu sumber daya yang benilai lebih jika dimanfaatkan
seperti kerajinan dan pupuk kompos. Sedangkan untuk sampah-sampah selain sampah
organik dan bungkus kemasan seperti kertas, plastik dan logam kaca dapat dijual
langsung ke pengumpul sampah atau dalam istilah makassar yaitu “payabo-yabo”,
sehingga sampah tersebut memiliki nilai ekonomi lagi bagi masyarakat. Dengan
demikian sampah rumah tangga yang tersisa yaitu sampah yang betul-betul tidak
bisa dimanfaatkan lagi, dan volume sampah di BTN Pondok Asri I Sudiang semakin
berkurang dan lebih bermanfaat juga jika dibandingkan dengan cara membakar tadi
walaupun juga secara cepat dapat mengurangi volume sampah.
Dengan
sistem pengelolaan yang demikian diharapkan dapat mudah diterapkan oleh
masyarakat dengan kesadaraan yang tinggi terhadap permasalahan sampah. Selain
itu peran suatu organisasi diperlukan untuk mengkoordinir suatu upaya
pengelolaan yang terpadu seperti di atas agar tercapainya tujuan pemanfaatan sampah
secara efektif dan efisien.